Newest Post

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Islam

| Senin, 10 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Bismillahirrohmanirrohim,,,, 
Hasil blogwalking nih guys, ya meskipun hasil copas gak apa ya insyaAllah ber,manfaat kok guys. 

Tidak dapat dipungkiri, musik sangat dekat dengan kehidupan kita, apalagi kita sebagai anak muda. Hampir semua remaja menyukai musik, tidak terkecuali kita. Namun, kita sering mendengar orang bilang "musik itu haram" atau "nyanyi itu haram". Lho, terus gimana, dong? Kita kan suka banget dengerin musik, tapi kita juga nggak mau melanggar larangan agama. Nah, bagaimana sebenarnya hukum musik dan bernyanyi dalam Islam?

1. Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni)

      Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101):

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Islam

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :Senin, 10 Februari 2014
With 0komentar

Aku Mencintaimu Senja

| Minggu, 09 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Ya benar senja sekarang memang kau sedikit berubah, ya berubah. Kau lebih sering memberiku suatu pesan menyapa pagi dan malam. Tapi kau hanya berubah seperti dalam hal itu saja. Ya senja, entah aku tak tahuharus bagaimana. Tapi sungguh semakin hari kau menambah luka ini semakin menganga.
Ya ‘terserah” itu kata yang sekarang aku gunakan untuk menegurmu. Oke jika kau bilang itu suatu sifat yang menunjukkan tidak adanya pendirian pada jiwaku. Aku menerima, tapi kau sungguh tak memahamiku. Kau tak tau apa yang aku inginkan senja. Jujur aku terlanjur cinta denganmu senja.Tapi jika aku teruskan cintaku ini, aku ragu luka ini segera sembuh senja. Sudahlah, sudahi misteri cinta ini, sudahi cerpen kita sampai disini.
Kau bilang aku tak serius? Kau bilang aku tak melakukan sebuah pengorbanan ? ya terserah kamu saja senja, terserah sungguh terserah apa katamu kali ini. Aku bilang padamu aku masih ragu dengan semua akhir dari cerpen ini yang sejatinya, tapi kau tak mau mencoba meyakinkanku. Bagaimana bisa aku merasa yakin? Kau bilang keyakinanmu berpangkat seratus kali lipat atau terserahlah berapa kau lipat gandakan keyakinanmu buktinya kau tak mampu meyakinkan akhir dari cerpen sehingga berakhir seperti yang kau harapkan.
Inilah akhir dari cerpen kita senja. Harus berapa kali lagi aku mengatakan. Aku muak menjadi salah satu tokoh dicerpenmu. Aku berhenti sampai disini, ikuti langkahku untuk berhenti disini senja. Aku memang cinta kau senja, tapi aku tak ingin cinta ini menjadikan sebuh luka baru diantara kita senja. Senja cinta biarlah menjadi sebuah cinta . Jika kau menginginkan cinta yang kutanam pada dirimu tidak menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan , buktikanlah senja. Buktikan pada semuanya jika kau mencintaiku. Berhenti disini dan temui aku lagi dengan segala bukti janji manis yang pernah kau lontarkan kepadaku.

Semoga engkau bahagia senja dengan segala caramu, aku hanya ingin mencintaimu dalam diamku, biarlah hanya aku dan Dia yang tahu jika aku mencintaimu senja. Aku mencintaimu senja. 

Aku Mencintaimu Senja

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :Minggu, 09 Februari 2014
With 0komentar
Tag :

Terimakasih Ilalang

|
Baca selengkapnya »

Embun datang membawa sebuah pesan sedangkan ilalang membawa bingkisan untukku. Ya sesuatu yang kutunggu dan kuharapkan telah datang. Namun seiring berputarnya jarum jam aku harus berpisah dengan mereka. Sungguh aku masih ingin lama bersama mereka . aku ingin mengukir satu judul novel bersama mereka, ya buka sekedar cerpen yang aku ukir tapi sebuah novel, dmana cerita yang panjang tidak sesingkat cerpen. Ya karna waktu kita dipisahkan dan memaksaku untuk kembali bertemu senja. Luka ini masih menganga sayang. Luka ini belum sepenuhnya kering bahkan menghilang. Rasa sakitnya memang sedikit menghilang tapi masih terasa sakit.
Kali ini aku memang dipisahkan dengan embun tapi tidak dengan ilalang. Ia masih setia menemaniku untuk tetap merenda keceriaan disetiap lembaran kisahku. Sampai jumpa embun, sampai jumpa sampai ketemu hari esok. Aku masih disini bersama ilalang. Aku menunggu pesanmu lagi. Datanglah dengan sejuta pesan aku tak sabar dengan pesanmu.
Ilalang ku mohon kau untuk tetap disini, jangan engkau pergi. Tetaplah disampingku. Merenda jejak kehidupan disetiap hembusan nafasku. Langkah kita kan ku rekan dengan sajak-sajak ini. Biarlah sajak ini menjadi saksi kisah kita. Aku ingin mewariskan kisah kita ke anak cucuku melalui sajak ini. Tak apa bukan ?
Oke  denganmu senja harus dengan apa lagi aku membujuk untuk menyudahi semua ini, menghentikan cerpen antara aku dan kamu. Aku tak ingin mengubah cerpen ini menjadi novel bersamamu. Oke aku akan mencantumkan kisah cerpen itu dinovelku. Tapi hanya cerita selingan, dank au harus berhenti disini. Senja aku lelah, tidakkah kau lihat luka ini ? tengoklah dengan sengaja luka ini masih menganga sungguh masih menganga. Apa kau mau luka ini tetap menganga jika aku terus bersamamu senja.
Oh senja kau keras kepala sekali ! Ilalang lihatkah senja selalu seperti itu. Aku mendengar suaramu tapi kau mengacuhkan suaraku. Aku menerima nasehatku tapi kau tidak menerima nasehatku. Ya kau sering melupakan apa pesan yang selau ku berikan kepadamu. Dan itu membuatku sakit engkau tahu senja. Sudahlah aku rasa kita memang seharusny berhenti sampia disini. Kau selalu berpidato tentang keyakinan. Tapi kau tak membuktikan keyakinan itu, kau hanya membuktikannya dengan sebuah ucapan saja. Itupun kau ucapkan dengantak melihat kedua mataku. Jujur aku tak yakin denganmu senja. Aku tak yakin. Kau sering membohongiku senja, kadar kepercayaanku tiap kali kau berbohong semakin menurun. Harusnya kau sadar senja. Sudahlah.
Ialalng tolonglah aku, senja tak mau pergi dariku. Ia terus merajuk, membujuk dengan buaian rayuan gombal palsu. Kau dengankan ?

sabarlah wahai engkau sahabatku, Allah Maha tahu yang terbaik untukmu, untuknya, begitu juga dengan untukku” Senyum khas ilalang mengembang. Dan aku bahagia dengan itu. Terimakasih ilalang. 

Terimakasih Ilalang

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :
With 0komentar
Tag :

Menghapus Jejak Senja

| Jumat, 07 Februari 2014
Baca selengkapnya »


Haruskah harus kuhapus senja yang lalu dalam memori otakku? Haruskah aku melupakan semua kenangan bersama senja ? jahatkah aku jika aku melakukan itu pada senja lalu? Senja ini menyiksa batinku, menggores tercipta sebuah luka yang menganga.

Batinku bergejolak, mengingat kenangan itu. Senja oh senja mengapa kau cepat berlalu. Tapi bukankah aku sedang menunggu pesan dari embun, menunggu senyuman khas ilalang ? lalu mengapa aku masih memikirkanmu senja? Sudahlah cukup sampai disini cerepn antara kita. Aku ingin membuat cerpen sendiri tidak bersama kau tentunya. Aku ingin mendongeng bersama embun dan ilalang. Kali ini ia, yang mampu menyemangatiku. Engkau terlalu sakit jika terus menjelma bagai hantu yang terus menakuti disetiap langkah kakiku, disetiap detak jantungku.

Wahai embun cepatlah datang, aku tak sabar menunggu pesan yang kau bawa hari ini. Wahai ilalang cepatlah engkau hadir kemari aku rindu senyuman ketegaran yang tersirat dari bibirmu. Sungguh, bersama putaran bumi pada porsnya mereka akan mengahpus jejak senja. Ya jejak yang membuat aku terluka. Aku berharap mereka yang akan menutup luka yang menganga ini.

Sudahlah senja jangan kau panggil namaku, untuk kesekian kali. aku sudah bilang tawaran cerpenmu untuk aku menjadi tokoh utamamu sudah berhenti sampai disini. Aku sudah tak berminat menjadi tokoh utamamu, kau tega membiarkan aku tetap menjadi tokoh utama sedang aku masih punya luka yang menganga? Aku ingin mengahpus jejakmu sampai disini. Aku telah memilih pernyataan" aku kan buat cerpen sendiri".Ya aku kan merenda cerpenku bersama embun dan ilalang. Mereka tokoh utama cerpenku. 

Kau begitu kerasa kepala sesuai yang kuduga. Kau terus berjalan dalam memoriku dan aku ingin berlari menjauh darimu memabwa memoriku jauh dihadapanmu. Aku juga tak jauh beda denganmu senja, bukan karna sifatku tapi aku ingin mengimbangimu. Kali ini sungguh maafkan aku senja, aku ingin menyembuhkan luka yang menganga ini, aku tak ingin luka ini ketika kering akan membekas pada kulitku. Sungguh, maka jauhilah diriku senja. Itu langkah yang akan membantuku untuk menyembuhkan luka ini. 



Menghapus Jejak Senja

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :Jumat, 07 Februari 2014
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲