Newest Post

Melewatkan Jejak Embun

| Rabu, 12 Februari 2014
Baca selengkapnya »

Ya sejak hari yang lalu aku terlalu sibuk. Menjalankan tugasku sebagai makhluk bumi harus kesana kemari. Mengacuhkan tentang senja bahkan aku melewati 2 hari ini tanpa jejak embun. Ilalang masih terlihat menyemangatiku dari jauh, melontarkan senyum kesabaran.  Entahlah hasrat rindu kepada embun melonjak-lonjak memenuhi batin.
Terbangun dari tidurku, rasanya pening sekali. Ku tengok jarum jam yang setia berputar mengelilingi diantara kumpulan angka-angka, hatiku berdebar gemuruh. Aku melewatkan jejak embun untuk kesekian kalinya. Betapa kecewanya aku, dan mungkin embun juga merasakan hal yang sama. Pagi ini aku tak mampu menyapa embun, tak mampu melihat senyuman embun dan lebih dari itu aku tak tahu pesan yang dibawa oleh embun pagi ini.
Mentari sudah berjalan searah sudut 45 derajat, mebun sudah pergi. Dan sungguh aku melewatkan jejak embun. Tak bisakah engkau lebih lama hadir disini embun, aku sangat rindu padamu. Tak hanya melewatkan embun kali ini aku melewatkan sahabat baruku yaitu fajar. Sudahlah ini kecerobohanku. Sudahlah ini semua salahku. Tak mendengarkan pesan alam yang sejak dari malam berbicara padaku untuk beristirahat lebih awal.
Ya aku terlalu lelah… maafkan aku embun maafkan aku.


Melewatkan Jejak Embun

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :Rabu, 12 Februari 2014
With 0komentar
Tag :

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Islam

| Senin, 10 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Bismillahirrohmanirrohim,,,, 
Hasil blogwalking nih guys, ya meskipun hasil copas gak apa ya insyaAllah ber,manfaat kok guys. 

Tidak dapat dipungkiri, musik sangat dekat dengan kehidupan kita, apalagi kita sebagai anak muda. Hampir semua remaja menyukai musik, tidak terkecuali kita. Namun, kita sering mendengar orang bilang "musik itu haram" atau "nyanyi itu haram". Lho, terus gimana, dong? Kita kan suka banget dengerin musik, tapi kita juga nggak mau melanggar larangan agama. Nah, bagaimana sebenarnya hukum musik dan bernyanyi dalam Islam?

1. Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni)

      Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101):

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Islam

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :Senin, 10 Februari 2014
With 0komentar

Aku Mencintaimu Senja

| Minggu, 09 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Ya benar senja sekarang memang kau sedikit berubah, ya berubah. Kau lebih sering memberiku suatu pesan menyapa pagi dan malam. Tapi kau hanya berubah seperti dalam hal itu saja. Ya senja, entah aku tak tahuharus bagaimana. Tapi sungguh semakin hari kau menambah luka ini semakin menganga.
Ya ‘terserah” itu kata yang sekarang aku gunakan untuk menegurmu. Oke jika kau bilang itu suatu sifat yang menunjukkan tidak adanya pendirian pada jiwaku. Aku menerima, tapi kau sungguh tak memahamiku. Kau tak tau apa yang aku inginkan senja. Jujur aku terlanjur cinta denganmu senja.Tapi jika aku teruskan cintaku ini, aku ragu luka ini segera sembuh senja. Sudahlah, sudahi misteri cinta ini, sudahi cerpen kita sampai disini.
Kau bilang aku tak serius? Kau bilang aku tak melakukan sebuah pengorbanan ? ya terserah kamu saja senja, terserah sungguh terserah apa katamu kali ini. Aku bilang padamu aku masih ragu dengan semua akhir dari cerpen ini yang sejatinya, tapi kau tak mau mencoba meyakinkanku. Bagaimana bisa aku merasa yakin? Kau bilang keyakinanmu berpangkat seratus kali lipat atau terserahlah berapa kau lipat gandakan keyakinanmu buktinya kau tak mampu meyakinkan akhir dari cerpen sehingga berakhir seperti yang kau harapkan.
Inilah akhir dari cerpen kita senja. Harus berapa kali lagi aku mengatakan. Aku muak menjadi salah satu tokoh dicerpenmu. Aku berhenti sampai disini, ikuti langkahku untuk berhenti disini senja. Aku memang cinta kau senja, tapi aku tak ingin cinta ini menjadikan sebuh luka baru diantara kita senja. Senja cinta biarlah menjadi sebuah cinta . Jika kau menginginkan cinta yang kutanam pada dirimu tidak menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan , buktikanlah senja. Buktikan pada semuanya jika kau mencintaiku. Berhenti disini dan temui aku lagi dengan segala bukti janji manis yang pernah kau lontarkan kepadaku.

Semoga engkau bahagia senja dengan segala caramu, aku hanya ingin mencintaimu dalam diamku, biarlah hanya aku dan Dia yang tahu jika aku mencintaimu senja. Aku mencintaimu senja. 

Aku Mencintaimu Senja

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :Minggu, 09 Februari 2014
With 0komentar
Tag :

Terimakasih Ilalang

|
Baca selengkapnya »

Embun datang membawa sebuah pesan sedangkan ilalang membawa bingkisan untukku. Ya sesuatu yang kutunggu dan kuharapkan telah datang. Namun seiring berputarnya jarum jam aku harus berpisah dengan mereka. Sungguh aku masih ingin lama bersama mereka . aku ingin mengukir satu judul novel bersama mereka, ya buka sekedar cerpen yang aku ukir tapi sebuah novel, dmana cerita yang panjang tidak sesingkat cerpen. Ya karna waktu kita dipisahkan dan memaksaku untuk kembali bertemu senja. Luka ini masih menganga sayang. Luka ini belum sepenuhnya kering bahkan menghilang. Rasa sakitnya memang sedikit menghilang tapi masih terasa sakit.
Kali ini aku memang dipisahkan dengan embun tapi tidak dengan ilalang. Ia masih setia menemaniku untuk tetap merenda keceriaan disetiap lembaran kisahku. Sampai jumpa embun, sampai jumpa sampai ketemu hari esok. Aku masih disini bersama ilalang. Aku menunggu pesanmu lagi. Datanglah dengan sejuta pesan aku tak sabar dengan pesanmu.
Ilalang ku mohon kau untuk tetap disini, jangan engkau pergi. Tetaplah disampingku. Merenda jejak kehidupan disetiap hembusan nafasku. Langkah kita kan ku rekan dengan sajak-sajak ini. Biarlah sajak ini menjadi saksi kisah kita. Aku ingin mewariskan kisah kita ke anak cucuku melalui sajak ini. Tak apa bukan ?
Oke  denganmu senja harus dengan apa lagi aku membujuk untuk menyudahi semua ini, menghentikan cerpen antara aku dan kamu. Aku tak ingin mengubah cerpen ini menjadi novel bersamamu. Oke aku akan mencantumkan kisah cerpen itu dinovelku. Tapi hanya cerita selingan, dank au harus berhenti disini. Senja aku lelah, tidakkah kau lihat luka ini ? tengoklah dengan sengaja luka ini masih menganga sungguh masih menganga. Apa kau mau luka ini tetap menganga jika aku terus bersamamu senja.
Oh senja kau keras kepala sekali ! Ilalang lihatkah senja selalu seperti itu. Aku mendengar suaramu tapi kau mengacuhkan suaraku. Aku menerima nasehatku tapi kau tidak menerima nasehatku. Ya kau sering melupakan apa pesan yang selau ku berikan kepadamu. Dan itu membuatku sakit engkau tahu senja. Sudahlah aku rasa kita memang seharusny berhenti sampia disini. Kau selalu berpidato tentang keyakinan. Tapi kau tak membuktikan keyakinan itu, kau hanya membuktikannya dengan sebuah ucapan saja. Itupun kau ucapkan dengantak melihat kedua mataku. Jujur aku tak yakin denganmu senja. Aku tak yakin. Kau sering membohongiku senja, kadar kepercayaanku tiap kali kau berbohong semakin menurun. Harusnya kau sadar senja. Sudahlah.
Ialalng tolonglah aku, senja tak mau pergi dariku. Ia terus merajuk, membujuk dengan buaian rayuan gombal palsu. Kau dengankan ?

sabarlah wahai engkau sahabatku, Allah Maha tahu yang terbaik untukmu, untuknya, begitu juga dengan untukku” Senyum khas ilalang mengembang. Dan aku bahagia dengan itu. Terimakasih ilalang. 

Terimakasih Ilalang

Posted by : Puji Rokhayanti
Date :
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲